a d v e r t i s e m e n t s

Inilah Hukumnya dalam Islam, Suami Menganggur dan Hidup dari Penghasilan Istrinya

Idealnya, seorang suami adalah tulang punggung keluarga yang mencari nafkah dan memenuhi segala kebutuhan di rumah. Namun ada kalanya karena beberapa faktor dan alasan, yang terjadi justru istri yang bekerja memenuhi kebutuhan keluarga sementara suami tidak memiliki pekerjaan.

gajian.net  – Suami dan istri yang sama-sama bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarga masih bisa dikatakan ideal mengingat sulitnya menghasilkan uang. Sehingga suami dan istri sama-sama memiliki penghasilan dimana gaji atau penghasilan istri merupakan tambahan untuk memperkuat ekonomi keluarga.

Baca juga : Lakukan 5 Hal ini Untuk Menghargai Uang Hasil Jerih Payah Anda Sebelum Menguap Tak Berbekas

Muslim women

a d v e r t i s e m e n t s

Tetapi yang terjadi pada sebagian masyarakat justru tidak ideal. Seorang istri bekerja dari pagi hingga sore/malam sementara suami tidak memiliki penghasilan karena berbagai faktor dan alasan. Dalam keadaan ini sang suami bergantung pada penghasilan istri. Lalu bagaimana hukumnya dalam Islam jika suami menganggur tidak berpenghasilan dan hidup dari penghasilan istri?

“Gaji istri yang bekerja, semua yang diterima akibat dari pekerjaan tersebut menjadi haknya. Suami tidak boleh mengambil harta yang diperoleh oleh istrinya itu walaupun sedikit, kecuali dengan kerelaan hati istrinya.” Demikian fatwa ulama (Fatwa Islam No 126316), seperti disarikan dari onislam.

Ada yang harus digaris bawahi disini yaitu kata ‘kerelaan’. Jika istri tidak ridho penghasilan yang telah diperolehnya dari bekerja itu diambil oleh suaminya, maka apabila si suami mengambil harta tersebut walaupun sedikit, hukumnya sama dengan seseorang yang mengambil harta yang bukan haknya atau mencuri.

Jelas disini hukumnya haram, walaupun istri bekerja atas izin suaminya.

Suami tidak memiliki penghasilan, menganggur, baru saja kena PHK, lalu bagaimana jika istri tetap tida rela hartanya diambil oleh suaminya?

Tentang perkara seperti ini, Al Bukhari meriwayatkan hadits Abu Sa’id al Khudri Radhiyallahu ‘anhu dalam shahihnya, seperti dikutip Ummi. Suatu hari Zainan istri dari Ibnu Mas’ud datang kepada Rasulullah untuk bertanya perihal shodaqoh atau sedekah. Zainab hendak bersedekah perhiasan yang dimilikinya, namun suaminya menganggap ia dan anak-anaknya lebih berhak menerima sedekah tersebut daripada orang lain.

Dan Rasulullah bersabda, “Ibnu Mas’ud berkata benar. Suami dan anakmu lebih berhak menerima sedekahmu. Ia mendapatkan dua pahala, pahala menjalin tali kekerabatan dan pahala sedekah.”

Sehingga bagi istri yang bekerja setelah mendapatkan izin dari suami, penghasilannya disedekahkan kepada suami untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Harus dipahami disini, sedekah ini juga atas kerelaan istri, karena suami tidak memaksakan seluruh penghasilan istri untuk suami yang menganggur dan tidak berpenghasilan.

a d v e r t i s e m e n t s
tags : suami menganggur menurut islam, suami nganggur menurut islam, suami pengangguran menurut islam, suami tidak bekerja menurut islam, hukum suami tidak bekerja, suami pengangguran, suami tidak bekerja, suami menganggur, suami nganggur, suami pengangguran istri bekerja